Senin, 19 Desember 2016

Siswa Gondrong Sebagai Bentuk Pemeliharaan Pola Struktural SMA Gonzaga, Jakarta

Ireneus Mario Muljadi
marmul286@gmail.com

Abstrak:
Rambut gondrong bagi sebagian masyarakat masih menjadi momok yang menakutkan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, bagi sebagian masyarakat lain, hal tersebut bukanlah menjadi persoalan tersendiri. Begitu pula dengan adanya aturan siswa sekolah yang diperbolehkan berambut panjang, meskipun ada persyaratan tertentu untuk bisa mendapatkan hak tersebut. Tulisan ini hendak menguraikan bagaimana kajian fenomena ini dilihat dari sudut pandang struktural-fungsional yang dikemukakan oleh Talcott Parsons. Fenomena rambut gondrong bagi sekolah justru sebagai sarana untuk memelihara ciri khas yang melekat pada sekolah tersebut.

Kata Kunci: gondrong, sekolah, struktural-fungsional, pemeliharaan pola, karakter

Abstract:
Long hair for most people is still a frightening specter to be applied in everyday life. However, for some other people, it is not a problem in itself. Similarly, the rules of school students are allowed long hair, although there are certain requirements to be able to get this right. This paper describes how the study was about this phenomenon from the perspective of the structural-functional proposed by Talcott Parsons. The phenomenon of long hair for schools precisely as a means to maintain a characteristic inherent in the school.

Keyword: long hair, school, structural-functional, latency, character

Kamis, 29 September 2016

Peranan Keluarga dan Iman dalam Menanggulangi Penyalahgunaan Narkoba

Opini

Ireneus Mario Muljadi
marmul286@gmail.com

Tulisan ini saya buat ketika saya duduk di kelas XII IPS SMA Gonzaga. Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari ulangan harian dalam mata pelajaran Pendidikan Agama di kelas. Tepatnya, tulisan ini dibuat pada bulan Januari 2015 lalu. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca serta menjadi bahan refleksi untuk kita semua.

Sabtu, 02 Juli 2016

Mencermati Tanggapan Karakteristik Manusia Indonesia Menurut Mochtar Lubis

Ulasan Buku

Ireneus Mario Muljadi (4815153545)
Pendidikan Sosiologi A 2015
Universitas Negeri Jakarta
marmul286@gmail.com

Lubis, Mochtar. 2016. Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Usaha untuk menguraikan karakteristik manusia Indonesia seutuhnya sudah banyak dilakukan oleh berbagai pihak. Namun, ada satu tokoh yang menguraikan karakteristik manusia Indonesia dengan sudut pandang yang menarik. Beliau adalah Mochtar Lubis, seorang wartawan senior yang juga turut serta dalam mendirikan kantor berita Antara.

Selasa, 21 Juni 2016

PENDIDIKAN SEPERTI SANG FAJAR oleh FAJAR ARIF

Nama               :           Fajar Arif Rachman
Nim                 :           4815153683
Kelas               :           Pend. Sosiologi A 2015
Makul              :           Bahasa Indonesia

PENDIDIKAN SEPERTI SANG FAJAR

            Bila ada yang bertanya tentang apa itu pendidikan maka ia sesungguhnya belum mendapatkan pendidikan itu sendiri. Dalam terminologi, pendidikan merupakan usaha sadar yang terencana dan sistematis dengan adanya interaksional peserta didik didalamnya dan memiliki tujuan. Pendidikan ialah hal yang sangat penting bagi setiap insan di dunia ini. Pendidikan tidak hanya mengantar kita sebagai manusia untuk bisa eksis dalam duniawi tetapi juga bisa mengantarkan kita untuk bisa eksis di alam selanjutnya.

PENDIDIKAN KARAKTER BAGI INDONESIA oleh FACHREZA ABDUL

Nama   : Fachreza Abdul Ghifari
Kelas   : Pendidikan Sosiologi A 2015
NIM    : 4815150603




PENDIDIKAN KARAKTER BAGI INDONESIA

Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk membentuk suatu generasi bangsa yang beradab dan bangsa yang berkualitas tetapi jika kita lihat pendidikan saat ini masih sangatlah jauh dari standard dan bahkan beberapa Negara menyebutkan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia ini sangat berat, begitu pula system pendidikan yang masih sangat melankolis, itu tentu saja membuat generasi bangsa kita mengalami kemandekan dalam dunia pendidikan dan dengan system pembelajaran yang melankolis ini pembelajaran di kelas menjadi monoton dan selalu berulang-ulang dari tahun-ketahun, contohnya pada anak yang terlahir di era 90 hingga 2000-an yang kita tahu bahwa jika kita menggambar gunung harus selalu dengan dua gunung yang memiliki matahari ditengahnya, sawah, jalan raya, burung-burung dsb. Lalu ketika kita di ajarkan membaca pasti sang pendidik ini selalu mengatakan “ini ibu budi, ibu budi pergi ke pasar, bapak budi pergi ke kantor” dan lain sebagainya. Lalu saat ini banyak sekali para pendidik lupa akan menanamkan nilai dan pendidikan untuk menjadi pribadi yang berbudi pekerti baik karena pada hakikatnya seorang pendidik yang baik adalah bukan seorang pendidik yang sekedar mencetak para generasi yang sukses secara material tetapi berhasil untuk membentuk kepribadian muridnya menjadi seorang yang berbudi pekerti luhur. Dan saat ini pula Indonesia mengalami dekadensi moral dimana moral-moral anak bangsa saat ini menurun akibat kurangnya penanaman nilai dan pendidikan yang mengacu pada pembentukan karakter akibatnya banyak anak-anak muda saat ini yang memakai narkoba, tawuran, seks bebas, konflik social dimana-mana dan lain sebagainya. Maka perlu di gerak kannya sebuah model pendidikan berkarakter.